Bercerita adalah Seni dalam Mendidik Anak

 on Tuesday, November 24, 2015  

Salah satu seni dalam mendidik anak adalah dengan bercerita. Cerita termasuk cara yang paling mudah melekat dengan baik dalam menyampaikan keteladanan kepada anak didik. Di dalam cerita banyak terkandung nilai-nilai luhur yang dapat ditanamkan. Tentu saja cerita yang dimaksud disini bukanlah cerita yang bertentangan dengan agama Islam, cerita yang mengandung kesyirikan, atau cerita yang tidak dapat dipertanggung jawabkan sumber dan kebenarannya.
Setiap pendidik (guru/orangtua) harus selektif dalam menyampaikan kisah keteladanan kepada anak didik (siswa). Jangan sampai kisah yang disampaikan hanyalah sekedar dongeng yang tidak memberikan bekas manfaat, atau sekadar pengantar tidur saja. Cerita yang disarankan tentulah kisah-kisah nyata yang dapat dijadikan keteladanan, seperti kisah Nabi dan Rasul (Shiroh Nabawiyah), kisah para shahabat Rasulullah, kisah orang-orang shaleh, serta kisah umat - umat terdahulu yang dapat dijadikan ibroh sesuai dengan Al Quran dan sunnah Rasulullah.

Rasulullah pernah mencontohkan hal ini, yang tergambar dari salah satu hadits dari Abu Hurairoh     , yang lebih kurang artinya sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, bahwa sesungguhnya Rasulullah  menceritakan seorang laki – laki dari Bani Israil yang akan meminjam uang kepada salah seorang laki – laki Bani Israil lainnya sebesar 1.000 dinar. Si pemilik uang berkata: “Bawalah kepadaku seorang saksi untuk menjadi saksinya.” Orang itu menjawab: “Cukuplah Allah menjadi saksinya.” Pemilik uang berkata: “Bawalah kepadaku seorang penjamin.” Ia menjawab: “Cukuplah Allah menjadi penjamin.” Pemilik uang berkata : “Engkau benar.” Ia pun lalu menyerahkan uang itu kepadanya untuk dibayarkan sampai temponya (yang telah ditentukan). Tatkala jatuh tempo si peminjam (berupaya) pergi belayar untuk membayarkan utangnya, kemudian ia mencari perahu untuk dapat ditumpanginya karena telah jatuh tempo masa hutangnya. Namun ia tidak menemukan sebuah perahupun. Iapun mengambil papan (kayu), dan kemudian melubangi papan itu, lalu ia masukkan uang sebanyak 1.000 dinar di dalamnya disertai dengan selembar catatan dengan tulisan “dari fulan kepada (fulan) pemilik uang”. Lalu papan itu dia rapikan begitu rupa, kemudian ia hanyutkan ketengah laut seraya berdoa: “ Ya Allah, Engkau tahu bahwa aku telah meminjam uang dari si fulan 1.000 dinar dan dia meminta kepadaku seorang penjamin, lalu aku katakana : “Cukuplah Allah sebagai penjaminnya” dan diapun ridha kepada-Mu. Kemudian dia meminta kepadaku seorang saksi, lalu aku katakana “Cukuplah Allah sebagai saksinya”. Diapun ridha kepada-Mu. Sungguh aku sudah berusaha keras untuk mendapatkan perahu  yang akan aku tumpangi untuk mengirimkan kepadanya apa yang menjadi haknya, tetapi aku tidak mendapatkannya, dan aku titipkan janji itu kepadu-Mu ya Allah.” Selanjutkan ia lemparkan papan tadi ketengah laut lepas sampai terhanyut, kemudian dia pulang. Sekalipun demikian ia tetap berusaha mencari perahu untuk bisa pergi berlayar. Kemudian laki-laki yang dulu memberinya pinjaman itu menanti di pantai, barangkali ada perahu yang muncul membawa orang yang meminjam uangnya dulu. Tiba-tiba ia dapati sebuah papan (yang ternyata di dalamya ada uangnya), lalu dia mengambilnya (tanpa mengetahui isinya) untuk dijadikan kayu bakar oleh istrinya.  Tatkala kayu itu ia belah ia dapati di dalamnya uang (sebesar 1.000 dinar) dan selembar surat. (beberapa waktu kemudian) Orang yang meminjam uang dulu itu datang dan membawa uang 1.000 dinar, kemudia ia berkata (kepada si pemberi hutang) : “Demi Allah, saya sudah berusaha keras untuk mendapatkan perahu agar dapat datang kepada anda untuk mengembalikan uang anda, tetapi saya tidak menemukan satu perahupun sebelum saya datang sekarang.” Ia bertanya: “ Adakah engkau telah mengirimkan sesuatu kepadaku?” Si peminjam menjawab: “Saya katakana kepada Anda bahwa saya tidak menemukan perahu sebelum kedatangan saya yang sekarang ini.” Orang itu menjawab “Sungguh Allah telah menyampaikan apa yang engkau kirimkan lewat sebuah papan yang dihanyutkan, maka pulanglah engkau dengan membawa kembali 1.000 dinar ini utuh. (HR. Bukhari, Kitab Hiwaalah)*)
Demikianlah salah satu contoh keteladanan dalam menempati janji kepada seseorang yang pernah disampaikan Rasulullah. Wallahu a’lam
Bercerita adalah Seni dalam Mendidik Anak 4.5 5 Unknown Tuesday, November 24, 2015 Salah satu seni dalam mendidik anak adalah dengan bercerita. Cerita termasuk cara yang paling mudah melekat dengan baik dalam menyampaikan ...


No comments:

Post a Comment

Total Pageviews

Powered by Blogger.

Pages