Salah satu seni dalam mendidik anak
adalah dengan bercerita. Cerita termasuk cara yang paling mudah melekat dengan
baik dalam menyampaikan keteladanan kepada anak didik. Di dalam cerita banyak
terkandung nilai-nilai luhur yang dapat ditanamkan. Tentu saja cerita yang
dimaksud disini bukanlah cerita yang bertentangan dengan agama Islam, cerita
yang mengandung kesyirikan, atau cerita yang tidak dapat dipertanggung jawabkan
sumber dan kebenarannya.
Setiap pendidik (guru/orangtua)
harus selektif dalam menyampaikan kisah keteladanan kepada anak didik (siswa).
Jangan sampai kisah yang disampaikan hanyalah sekedar dongeng yang tidak
memberikan bekas manfaat, atau sekadar pengantar tidur saja. Cerita yang
disarankan tentulah kisah-kisah nyata yang dapat dijadikan keteladanan, seperti
kisah Nabi dan Rasul (Shiroh Nabawiyah), kisah para shahabat Rasulullah, kisah
orang-orang shaleh, serta kisah umat - umat terdahulu yang dapat dijadikan
ibroh sesuai dengan Al Quran dan sunnah Rasulullah.
Rasulullah pernah mencontohkan hal ini, yang tergambar
dari salah satu hadits dari Abu Hurairoh , yang lebih kurang artinya sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, bahwa sesungguhnya Rasulullah menceritakan seorang laki – laki dari Bani
Israil yang akan meminjam uang kepada salah seorang laki – laki Bani Israil
lainnya sebesar 1.000 dinar. Si pemilik uang berkata: “Bawalah kepadaku seorang
saksi untuk menjadi saksinya.” Orang itu menjawab: “Cukuplah Allah menjadi
saksinya.” Pemilik uang berkata: “Bawalah kepadaku seorang penjamin.” Ia
menjawab: “Cukuplah Allah menjadi penjamin.” Pemilik uang berkata : “Engkau
benar.” Ia pun lalu menyerahkan uang itu kepadanya untuk dibayarkan sampai
temponya (yang telah ditentukan). Tatkala jatuh tempo si peminjam (berupaya)
pergi belayar untuk membayarkan utangnya, kemudian ia mencari perahu untuk dapat
ditumpanginya karena telah jatuh tempo masa hutangnya. Namun ia tidak menemukan
sebuah perahupun. Iapun mengambil papan (kayu), dan kemudian melubangi papan
itu, lalu ia masukkan uang sebanyak 1.000 dinar di dalamnya disertai dengan
selembar catatan dengan tulisan “dari fulan kepada (fulan) pemilik uang”. Lalu
papan itu dia rapikan begitu rupa, kemudian ia hanyutkan ketengah laut seraya
berdoa: “ Ya Allah, Engkau tahu bahwa aku telah meminjam uang dari si fulan
1.000 dinar dan dia meminta kepadaku seorang penjamin, lalu aku katakana :
“Cukuplah Allah sebagai penjaminnya” dan diapun ridha kepada-Mu. Kemudian dia
meminta kepadaku seorang saksi, lalu aku katakana “Cukuplah Allah sebagai
saksinya”. Diapun ridha kepada-Mu. Sungguh aku sudah berusaha keras untuk
mendapatkan perahu yang akan aku
tumpangi untuk mengirimkan kepadanya apa yang menjadi haknya, tetapi aku tidak
mendapatkannya, dan aku titipkan janji itu kepadu-Mu ya Allah.” Selanjutkan ia
lemparkan papan tadi ketengah laut lepas sampai terhanyut, kemudian dia pulang.
Sekalipun demikian ia tetap berusaha mencari perahu untuk bisa pergi berlayar.
Kemudian laki-laki yang dulu memberinya pinjaman itu menanti di pantai,
barangkali ada perahu yang muncul membawa orang yang meminjam uangnya dulu.
Tiba-tiba ia dapati sebuah papan (yang ternyata di dalamya ada uangnya), lalu
dia mengambilnya (tanpa mengetahui isinya) untuk dijadikan kayu bakar oleh
istrinya. Tatkala kayu itu ia belah ia
dapati di dalamnya uang (sebesar 1.000 dinar) dan selembar surat. (beberapa
waktu kemudian) Orang yang meminjam uang dulu itu datang dan membawa uang 1.000
dinar, kemudia ia berkata (kepada si pemberi hutang) : “Demi Allah, saya sudah
berusaha keras untuk mendapatkan perahu agar dapat datang kepada anda untuk
mengembalikan uang anda, tetapi saya tidak menemukan satu perahupun sebelum
saya datang sekarang.” Ia bertanya: “ Adakah engkau telah mengirimkan sesuatu
kepadaku?” Si peminjam menjawab: “Saya katakana kepada Anda bahwa saya tidak
menemukan perahu sebelum kedatangan saya yang sekarang ini.” Orang itu menjawab
“Sungguh Allah telah menyampaikan apa yang engkau kirimkan lewat sebuah papan
yang dihanyutkan, maka pulanglah engkau dengan membawa kembali 1.000 dinar ini
utuh. (HR. Bukhari, Kitab Hiwaalah)*)
Demikianlah
salah satu contoh keteladanan dalam menempati janji kepada seseorang yang
pernah disampaikan Rasulullah. Wallahu a’lam
No comments:
Post a Comment