Mungkin Bapak/Ibu guru para pendidik di Sekolah Dasar (SD),
khususnya kelas bawah (kelas 1, 2, dan 3) pernah menemukan suatu kondisi dimana
salah seorang anak didiknya menangis dan
tidak mau berhenti ketika jam pempelajaran sedang berlangsung, setelah
melakukan berbagai upaya membujuk dan merayunya namun belum membuahkan hasil
yang diinginkan. Tentu hal ini akan menjadi masalah yang akan mengganggu proses
pembelajaran jika tidak dapat ditangani dengan baik. Kejadian berikut ini mungkin sering dialami Bapak/Ibu guru para
pendidik khususnya walikelas. Semoga cerita berikut dapat menjadi salah satu
pencerahan bagi kita untuk dapat menghadapi kondisi tersebut.
Kasus I
Suatu ketika seorang anak bernama Evan diganggu oleh teman
sekelasnya, sampai ia menangis dan tidak mau berbicara sepatah katapun.
Walikelasnya berusaha membujuknya dan menenangkannya dengan berbagai cara, ia
tidak mau memberikan respon positif. Lebih dari 15 menit ia terus menangis dan
hal ini mengganggu proses pembelajaran yang sedang berlangsung.
Bu Desi sebagai salah seorang walikelas yang terkenal cukup ramah
berusaha mengajaknya berbicara, namun Evan tetap saja menangis, menutup kedua
matanya dengan kedua lengannya dan tidak memberikan respon apapun terhadap
upaya yang dilakukan walikelasnya.
Lengannya basah, sesekali ia terdengar batuk dan tersedu menahan
tangis yang mulai tak bersuara.
Hal ini
berlangsung hingga jam istirahat sekolah, anak-anak mulai meninggalkan kelas
satu persatu, namun Evan belum menunjukann respon yang baik. Bu Desi mulai
khawatir terhadap anak didiknya dan segera melaporkan hal ini kepada Pak Alfi
sebagai bagian kesiswaan di salah satu SD swasta tersebut.
Setelah mendengar
pengaduan dari Bu Desi, Pak Alfi segera menuju kelas 1b. Evan masih dalam
kondisi sebelumnya. Air mata dan keringatnya membasahi lengan dan bajunya, dan
sejurus kemudian pak Alfi melancarkan serangan-serangannya untuk menaklukkan
kekesalan hati siswanya tersebut. Tahu apa yang terjadi? Tentusaja, Evan masih
tetap menangis. Pak Alfi mulai memutar otak, jurus apa lagi yang belum ia
lancarkan untuk membujuk Evan. Jujur saja, iapun mulai kebingungan
menghadapinya.
Ia mulai bertanya,
“evan kenapa?”
“dimarahi ustadzah?”
“diganggu teman?”
“diganggu siapa?”
Semua tidak dijawab.
“ada yang jahat sama Evan?, siapa?” coba pak Alfi kembali untuk
mengajak Evan berbicara agar mau mengagkat wajahnya dan berhenti menangis. Evan
belum menyahut juga. Pak Alfi teringat pembelajran yang pernah diterimanya, bahwa
seseorang sangat tertarik dengan hal-hal yang berkaitan dengan pribadinya. Dan
munculllah pertanyain lain satu-persatu.
“Evan punya adik?” ia mulai memberikan anggukan kecil
“siapa namanya?”
“Abi” jawab Evan
pelan.
“Evan sering main sama Abi?” ia mengangguk kembali
“main apa?” timpal pak Alfi lagi.
“main sepeda”
jawab evan mulai keras
“ooo” pak Alfi berusaha memasuki kepribadian Evan dan berusahan
untuk paham akan dirinya. Ia bertanya perihal apa hobinya, kapan main dengan
Abi, bagaimana adiknya, seberapa saying dia dengan adiknya, dan hal-hal lain
yag kira-kira menyenangkan bagi Evan dan bagi adiknya. Evan mulai mengangkat
kepalanya, menghapus air matanya dan menghentikan tangisnya. Pak Alfi mulai
mendapat kepercayaannya dan berhasil mengatasi maslah yang dihadapinya. Wallahu
a’lam.

No comments:
Post a Comment